
Di racuni, keracunan, atau faktor turunan dan lingkungan atau apalah namanya itu gak penting juga yang jelas gue suka, gue mau, mereka mengajak, atau memang panggilan alam gue berangkat. Menurut Sir. Edmund Hillary (orang yang pertama kali sampai puncak Everest) “Because It Is There” (karena itu aku ke sini).
Hasrat, kangen, penat, suntuk, pusing dengan kehidupan kota refreshing (penyegarannya) di gunung / alam. Ini bukan lagi menjadi gaya hidup atau trend tapi menjadi sebuah kebutuhan nurani gue.
Dengan biaya yang tidak sedikit (transportasi, peralatan pendakian) pendaki gunung memecah kesunyian, menjawab teka-teki alam, memasuki hutan dan mendaki, dan tak peduli dengan bahaya yang mengintai, dingin, jalur yang terjal, beban berat dipundak yang dianggap adalah “bumbu penyedap”.
Nafasnya terengah-engah, tulang-tulang rasanya mau copot, keringat sebesar jagung keluar dari seluruh tubuh, bercampur egoisme dan emosional yang harus dibunuh pendaki gunung terus saja berjalan perlahan dengan misi menembus puncak gunung. Setelah perjalanan panjang ditempuh di hutan sampailah di puncak gunung, mengibarkan merah-putih, mengeluarkan kamera me-record-nya, bersantai sejenak menikmati pemandangan alam di ketinggian sambil memakan logistik yang di bawa, setelah itu turun kembali. Apa yang mereka dapat selain gambar foto atau video….?? Tak lain hanya kepuasan bathin, story, dan memory. Point-nya adalah introspeksi diri, pendaki gunung merasa kecil, tak ada apa-apanya di hadapan sang pencipta alam semesta.
Jika hanya kepuasan jiwa yang gue atau mereka cari, percayalah kawan pendaki gunung menomor kesekiankan material dan nyawanya. Karena gue pribadi sadar bahwa berkegiatan di alam bebas secara tidak langsung sudah kontrak mati dengan Tuhan, karena setiap langkah adalah pertaruhan, dan semua mahluk yang hidup pasti akan mati. Bagi sebagian orang awam ini adalah hal yang tidak masuk di akal yang pada akhirnya melahirkan cemooh, cibiran, dan tertawa mengejek, bahkan menganggap hal yang sia-sia. Benarkah….??
Sebagian orang menganggap naik gunung atau berkegiatan di alam bebas lainnya adalah membuang-buang waktu, uang, menyiksa diri, atau dianggap orang gila. Gue hanya menanggapi dengan senyuman dan tawa ketika opini orang seperti itu. Mereka belum mengetahui arti hidup dan kehidupan atau mereka tak mau mengenal sisi lain ciptaan-Nya secara micro atau nusantara Indonesia khususnya. Indonesia adalah negara yang subur dan kaya akan Sumber Daya Alam, budaya, tradisi, sayang untuk kita lupakan……
“Ini kah jalan hidupku” kira-kira kata-kata itulah yang kadang keluar dari hati kecil gue, namun hal ini yang menjadikan output-nya positif. Dengan ketulusan hati, niat yang baik, berbekal pengetahuan yang didapat, dan di dorong sedikit kenekatan gue berangkat ke gunung….heheheheeee…. Di sini gue menemukan banyak pengetahuan, segudang ilmu kehidupan, misteri keindahan Tuhan, kawan-kawan seperjuangan, arti persahabatan. Di alam kita tak mengenal PANGKAT, JABATAN, KASTA, USIA, RUPA, karena di alam semua kita SAMA.
cek di sini= http://www.kaskus.us/showthread.php?p=212340845#post212340845
“Petualangan gue tak akan pernah berhenti, sebelum nafas ini terhenti”.
8 Mei 2010
Di kereta bisnis Mutiara Timur malam, sepulang dari pendakian Gn. Agung dan Batur Bali menuju Surabaya.
dan
27 September 2010
Lenteng Agung, at my Room.
PLB.02.006.DDR















2 komentar:
mantaf bro
just koreksi
" because it is there " karena itu ada di sana
Aasshhheeddaaappp masbroh..
Posting Komentar