Senin, 14 Mei 2012

Ada Hikmah di Pacitan

Handphone gue berdering yang ternyata dari seorang kawan, mengajaknya bekerja sama dalam sebuah job. Beberapa bulan sebelumnya dia pernah menghubungi gue dalam job yang sama tapi gue menolaknya karena ada kerjaan lain yang lebih dulu gue iya-kan. Ketika temen gue mengabari kembali job-nya yang kemarin ke pending lalu dia menghubungi lagi dan langsung gue terima ajakannya, karena kebetulan gue sedang free.

Yeeaayy.... Kita akan shooting di luar Jakarta, yaitu di Pacitan – Batu, Malang – Surabaya – Bogor. Kabar yang sangat menggembirakan buat gue. Karena pasti dapet suasana baru dan yang jelas gak ada macet yang bikin stress tambah stress. Pacitan kota tujuan utama kita, karena shooting titik awal di Pacitan. Kebetulan cerita tentang film yang mau di buat ini menurut gue keren dan sangat nasionalis. Gue tambah semangat and I'm like this!!

Kita mendatangi titik lokasi yang akan dijadikan setting nanti. Preparation on Location dimulai, beberapa hari kemudian preparation sudah berjalan mencapai sekitar 90% hanya tinggal finishing saja. Kami mendapat bad news dari Jakarta yang ternyata shooting di tunda lagi dengan jangka waktu yang agak lama. Huuufftt.... Kami semua lemas mendengar kabar ini. "Setiap orang pasti punya mimpi dan mimpi itu ingin di realisasikan", dan untuk sekarang ini mimpi itu sepertinya tertunda lagi…. Untuk menghibur diri kami semua memutuskan untuk jalan-jalan wara-wiri di Pacitan.

 
Kota Pacitan yang di kelilingi perbukitan dan sawah

Mandi Angin


TPI Pacitan 

Ternyata kota kecil ini mempunyai beragam ke unikan, mulai keramahtamahan masyarakatnya, view dari atas bukit, sampai pantainya benar-benar memanjakan pikiran dan mata ini seperti tau mau berkedip untuk terus memandang keindahan-Nya. Perbukitan dengan jurang-jurang yang curam dan hutan-hutan yang masih hijau ada di daerah Nawangan, arah menuju monumen dan museum Panglima Besar Jendral Soedirman. Di sana juga terdapat jalur lintasan gerilya Jendral Soedirman. Dengan udara yang sejuk belum banyak terkontaminasi. Perjalanan menuju museum dan monumen Panglima Besar Jendral Soedirman memakan waktu + 2 jam dengan mengitari + 5 – 6 bukit, namun perjalanan panjang yang berliku terbayar lunas dengan view-nya.


Monumen Panglima Besar Jendral Soedirman

                                                                                       Sunset di daerah Nawangan


Selain perbukitan, ada juga pantai yang menajubkan. Maybe, that's right hidden paradise!! di salah satu sebuah kota kecil di Jawa Timur. Pantai Watu Karung, perjalanan ke pantai ini tidak terlalu jauh seperti ke Nawangan dapat di tempuh kendaraan + 40 menit atau 25 km. Pasir pantai yang putih dan air laut yang jernih, di sekeliling pantai di hiasi dengan perbukitan karang yang tak kalah menariknya. Ternyata pantai ini sering di datangi turis-turis asing mancanegara, karena pantai ini mempunyai ombak yang cukup besar, yaaahh….tentunya mereka ini berjemur, surfing, dan body board. Surfer kelas dunia pun pernah ke sini ujar kawan gue yang orang lokal sana, dan beberapa kali daerah ini masuk majalah surfing luar namun pantai ini belum terlalu ter-explore di Indonesia sendiri.







Pantai Watu Karung


Buat gue yang baru mencoba belajar surfing, gak berani dah main surfing di situ, salah-salah kegulung ombak lecet-lecet di badan. Gue cuma bermain di ombak-ombak kecil basiannya aja itu udah cukup menyenangkan. Dalam hati agak menyesal karena gue gak bawa peralatan snorkling. Catatan: di sarankan kalau masih belajar surfing jangan di pantai Watu Karung ombaknya sangat besar untuk pemula, dan di sana gak ada penyewaan papan surfing, body board, atau snorkeling. Jadi kalau mau bermain yaah lau bawa sendiri. Namun di sana terdapat home stay, kalau harganya gue kurang tau, tapi yang jelas gak mahal. Ketika sore tiba siap-siap menyaksikan sunset di sebelah kanan bila kita menghadap ke pantai. Waaaauuww….. amazing..!! gak kalah keren sunset-nya dengan pantai-pantai lain, benar-benar renovasi otak.


Sunset di Pantai Watu Karung

Selain pantai Watu Karung kita juga mengunjungi pantai Pancer yang letaknya tidak terlalu jauh dari kota Pacitan + 15 – 20 menit kita sampai ke sana. Di sini ombaknya tidak terlalu besar dan airnya juga tak sejernih di pantai Watu Karung, namun Pantai Pancer mempunyai pasir pantai yang landai. Di sini lah gue belajar surfing. Turis-turis mancanegara juga banyak yang berkunjung ke pantai ini, selain surfing mereka juga menunggu datangnya sunset.


 



Belajar Surfing di Pantai Pancer

Sunset di Pantai Pancer

Biaya hidup di Pacitan tidak mahal, dengan uang Rp 10.000,- gue bisa makan + minum kenyang. Banyak menawarkan beraneka kuliner mulai dari soto ayam khas Pacitan, pecel Khas Madiun, Sego Gebyos, dll. Hampir di setiap tempat kuliner menyajikan es degan (es kelapa muda) karena di Pacitan banyak terdapat pohon kelapa. Penginapan di sini tidak terlalu mahal berkisar Rp 150.000,- sampai Rp 250.000,- permalam.



Terlintas di benak ini, kalau saja membawa motor trail gue mungkin gue akan bertahan pulang agak lama, karena di sana banyak menawarkan jalur-jalur single track untuk di sradak-sruduk motor trail yang bisa di tempuh. Suatu saat gue akan singgah dan mengunjungi tempat-tempat lain yang belum sempat gue kunjungi kemarin di Pacitan.

View di belakang rumah kawan, Pacitan.

Mungkin ini lah hikmah dari sebuah job yang ke pending, kalau job ini berjalan mungkin gue gak mengunjungi tempat-tempat ini. Gue tetap positif thinking bahwa kalau emang udah rezekinya gak bakalan nyasar ke rumah tetangga. Oks…!!



7 Mei 2012, di teras belakang rumah seorang kawan di Pacitan.

 - Jonkkers -

Tidak ada komentar: