Handphone gue
berdering yang ternyata dari seorang kawan, mengajaknya bekerja sama dalam
sebuah job. Beberapa bulan sebelumnya
dia pernah menghubungi gue dalam job
yang sama tapi gue menolaknya karena ada kerjaan lain yang lebih dulu gue
iya-kan. Ketika temen gue mengabari kembali job-nya
yang kemarin ke pending lalu dia
menghubungi lagi dan langsung gue terima ajakannya, karena kebetulan gue sedang
free.
Yeeaayy....
Kita akan shooting di luar Jakarta,
yaitu di Pacitan – Batu, Malang – Surabaya – Bogor. Kabar yang sangat
menggembirakan buat gue. Karena pasti dapet suasana baru dan yang jelas gak ada
macet yang bikin stress tambah stress. Pacitan
kota tujuan utama kita, karena shooting
titik awal di Pacitan. Kebetulan cerita tentang film yang mau di buat ini
menurut gue keren dan sangat nasionalis. Gue tambah semangat and
I'm like this!!
Kita
mendatangi titik lokasi yang akan dijadikan setting nanti. Preparation on Location dimulai, beberapa hari kemudian preparation sudah berjalan mencapai
sekitar 90% hanya tinggal finishing
saja. Kami mendapat bad news dari
Jakarta yang ternyata shooting di
tunda lagi dengan jangka waktu yang agak lama. Huuufftt.... Kami semua lemas
mendengar kabar ini. "Setiap orang pasti punya mimpi dan mimpi itu ingin di
realisasikan", dan untuk sekarang ini mimpi itu sepertinya tertunda lagi…. Untuk
menghibur diri kami semua memutuskan untuk jalan-jalan wara-wiri di Pacitan.
Kota Pacitan yang di kelilingi perbukitan dan sawah
Mandi Angin
TPI Pacitan
Ternyata kota
kecil ini mempunyai beragam ke unikan, mulai keramahtamahan masyarakatnya, view dari atas bukit, sampai pantainya
benar-benar memanjakan pikiran dan mata ini seperti tau mau berkedip untuk
terus memandang keindahan-Nya. Perbukitan dengan jurang-jurang yang curam dan
hutan-hutan yang masih hijau ada di daerah Nawangan, arah menuju monumen dan
museum Panglima Besar Jendral Soedirman. Di sana juga terdapat jalur lintasan
gerilya Jendral Soedirman. Dengan udara yang sejuk belum banyak terkontaminasi.
Perjalanan menuju museum dan monumen Panglima Besar Jendral Soedirman memakan
waktu + 2 jam dengan mengitari + 5 – 6 bukit, namun perjalanan
panjang yang berliku terbayar lunas dengan view-nya.
Monumen Panglima Besar Jendral Soedirman
Selain
perbukitan, ada juga pantai yang menajubkan. Maybe, that's right hidden paradise!! di salah satu sebuah kota kecil di Jawa Timur. Pantai Watu Karung, perjalanan ke pantai ini
tidak terlalu jauh seperti ke Nawangan dapat di tempuh kendaraan + 40
menit atau 25 km. Pasir pantai yang putih dan air laut yang jernih, di
sekeliling pantai di hiasi dengan perbukitan karang yang tak kalah menariknya.
Ternyata pantai ini sering di datangi turis-turis asing mancanegara, karena
pantai ini mempunyai ombak yang cukup besar, yaaahh….tentunya mereka ini
berjemur, surfing, dan body board. Surfer kelas dunia pun pernah ke sini ujar kawan gue yang orang lokal
sana, dan beberapa kali daerah ini masuk majalah surfing luar namun pantai ini belum terlalu ter-explore di Indonesia sendiri.
Pantai Watu Karung
Buat gue yang
baru mencoba belajar surfing, gak
berani dah main surfing di situ,
salah-salah kegulung ombak lecet-lecet di badan. Gue cuma bermain di ombak-ombak
kecil basiannya aja itu udah cukup menyenangkan. Dalam hati agak menyesal
karena gue gak bawa peralatan snorkling.
Catatan: di sarankan kalau masih belajar surfing jangan di pantai Watu Karung ombaknya sangat besar untuk pemula, dan di sana gak ada penyewaan papan surfing,
body board, atau snorkeling. Jadi
kalau mau bermain yaah lau bawa sendiri. Namun di sana terdapat home stay, kalau harganya gue kurang
tau, tapi yang jelas gak mahal. Ketika sore tiba siap-siap menyaksikan sunset di sebelah kanan bila kita
menghadap ke pantai. Waaaauuww….. amazing..!!
gak kalah keren sunset-nya dengan
pantai-pantai lain, benar-benar renovasi otak.
Sunset di Pantai Watu Karung
Selain pantai
Watu Karung kita juga mengunjungi pantai Pancer yang letaknya tidak terlalu
jauh dari kota Pacitan + 15 – 20 menit kita sampai ke sana. Di sini
ombaknya tidak terlalu besar dan airnya juga tak sejernih di pantai Watu Karung, namun Pantai Pancer mempunyai pasir pantai yang landai. Di sini lah gue belajar surfing. Turis-turis mancanegara juga
banyak yang berkunjung ke pantai ini, selain surfing mereka juga menunggu datangnya sunset.
Belajar Surfing di Pantai Pancer
Sunset di Pantai Pancer
Biaya hidup di
Pacitan tidak mahal, dengan uang Rp 10.000,- gue bisa makan + minum kenyang.
Banyak menawarkan beraneka kuliner mulai dari soto ayam khas Pacitan, pecel
Khas Madiun, Sego Gebyos, dll. Hampir di setiap tempat kuliner menyajikan es
degan (es kelapa muda) karena di Pacitan banyak terdapat pohon
kelapa. Penginapan di sini tidak terlalu mahal berkisar Rp 150.000,- sampai Rp
250.000,- permalam.
Terlintas di
benak ini, kalau saja membawa motor trail gue mungkin gue akan bertahan pulang
agak lama, karena di sana banyak menawarkan jalur-jalur single track untuk di sradak-sruduk motor trail yang bisa di
tempuh. Suatu saat gue akan singgah dan mengunjungi tempat-tempat lain yang
belum sempat gue kunjungi kemarin di Pacitan.
View di belakang rumah kawan, Pacitan.
Mungkin ini lah
hikmah dari sebuah job yang ke pending, kalau job ini berjalan mungkin gue gak mengunjungi tempat-tempat ini. Gue
tetap positif thinking bahwa kalau
emang udah rezekinya gak bakalan nyasar ke rumah tetangga. Oks…!!
7 Mei 2012, di teras belakang rumah seorang kawan di Pacitan.
- Jonkkers -





















Tidak ada komentar:
Posting Komentar